Top Menu

Wednesday, 3 February 2010

Sony Ericcson Rilis Ponsel Windows 6.5.3

Sony Ericsson membuka bungkus Aspen. Smartphone baru yang berorientasi bisnis itu adalah yang pertama mengusung Windows Mobile 6.5.3.
Windows Mobile 6.5.3 mulai bocor saat perangkat Windows Mobile 6.5 mulai berdatangan di bulan Oktober.
Sistem operasi itu menambahkan dukungan layar sentuh kapasitif, multi-touch dan berbagai perbaikan user interface yang mengganti menu warisan dan elemen-elemen navigasi lama.
Windows Mobile 6.5.3 diyakini sebagai upaya Microsoft untuk meningkatkan versi 6.5 yang loyo dan persiapkan Windows Mobile 7.
Aspen adalah bagian dari jajaran Sony Ericsson GreenHeart smartphone yang ramah lingkungan. Ponsel itu dibangun dari plastik daur ulang dan menggunakan cat berbasis air.
Untuk alasan ini, perusahaan itu menggambarkan Aspen sebagai "telepon bisnis dengan hati nurani," meskipun tidak jelas apakah perangkat ini benar-benar sebagai mahluk yang mampu membedakan antara yang benar dan salah.
Untuk pengguna bisnis, Aspen mengusung fitur keyboard QWERTY dan menawarkan pengguna kemampuan untuk melihat dan mengedit file kantor dengan mudah dan nyaman, menurut Sony Ericsson.
Layanan MyPhone Microsoft yang berguna saat perangkat hilang atau dicuri, juga merupakan bagian dari paket.

Taken From :


  • http://www.inilah.com/
  • Monday, 1 February 2010

    SUJIWO TEJO

    Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo".
    Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.
    Saat kuliah di jurusan Matematika dan jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung, hasrat berkesenian Sujiwo mulai berkembang. Saat itu Sujiwo Tejo menjadi penyiar radio kampus, main teater, dan mendirikan Ludruk ITB bersama budayawan Nirwan Dewanto. Sujiwo Tejo juga menjabat Kepala Bidang Pedalangan pada Persatuan Seni Tari dan Karawitan Jawa di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1981-1983 dan pernah membuat hymne jurusan Teknik Sipil ITB pada Orientasi Studi tahun 1983.
    Sujiwo Tejo yang mendalang wayang kulit sejak anak-anak, mulai mencipta sendiri lakon-lakon wayang kulit sebagai awal profesinya di dunia wayang dengan judul Semar Mesem (1994). Ia juga menyelesaikan 13 episode wayang kulit Ramayana di Televisi Pendidikan Indonesia tahun 1996, disusul wayang acappella berjudul Shinta Obong dan lakon Bisma Gugur. Pergumulannya dengan komunitas Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI), memberinya peluang untuk mengembangkan dirinya secara total di bidang kesenian. Selain mengajar teater di EKI sejak 1997, Sujiwo Tejo juga memberikan workshop teater di berbagai daerah di Indonesia sejak 1998. Berlanjut pada tahun 1999, Tejo memprakarsai berdirinya Jaringan Dalang. Tujuannya adalah untuk memberi nafas baru bagi tumbuhnya nilai-nilai wayang dalam kehidupan masyarakat masa kini. Bahkan pada tahun 2004, Sujiwo Tejo mendalang keliling Yunani.
    Pada tahun 1999, Sujiwo Tejo mulai dikenal masyarakat sebagai penyanyi (selain sebagai dalang) berkat lagu-lagunya dalam album Pada Suatu Ketika. Video klip "Pada Suatu Ketika" meraih penghargaan video klip terbaik pada Grand Final Video Musik Indonesia 1999, dan video klip lainnya merupakan nominator video klip terbaik untuk Grand Final Video Musik Indonesia tahun 2000. Kemudian diikuti labum berikutnya yaitu Pada Sebuah Ranjang (2001), Syair Dunia Maya (2005), dan Yaiyo (2007).
    Selain ndalang, Sujiwo Tejo juga aktif dalam menggelar atau turut serta dalam pertunjukan teater. Antara lain, membuat pertunjukan Laki-laki kolaborasi dengan koreografer Rusdy Rukmarata di Gedung Kesenian Jakarta dan Teater Utan Kayu, 1999. Sujiwo Tejo juga menjadi Sang Dalang dalam pementasan EKI Dancer Company yang bertajuk Lovers and Liars di Balai Sarbini, Sabtu dan Minggu, 27-28 Februari 2004.[1][2]
    Selain teater, Sujiwo Tejo juga bermain dan menjadi sutradara film. Debut filmnya adalah Telegram (2001) arahan Slamet Rahardjo dengan lawan main Ayu Azhari. Film ini bahkan meraih Best Actress untuk Ayu Azhari dalam Asia-Pacific Film Festival.[3] Kemudian dilanjutkan Kafir (2002), Kanibal (2004) menjadi Dukun Kuntetdilaga,[4] Janji Joni (2005), dan Kala (2007). Bersama Meriam Bellina, Sujiwo Tejo membintangi Gala Misteri SCTV yang berjudul Kafir-Tidak Diterima di Bumi (2004).[5]
    Sujiwo Tejo juga menggarap musik untuk pertunjukan musikal berjudul Battle of Love-when love turns sour, yang digelar 31 Mei sampai 2 Juni 2005 di Gedung Kesenian Jakarta. Hasil pertunjukan karya bersama Rusdy Rukmarata (sutradara & koreografer) dan Sujiwo Tejo (komposer musik) akan digunakan untuk membiayai program pendidikan dan pelatihan bagi anak-anak putus sekolah yang dikelola oleh Yayasan Titian Penerus Bangsa.[6] Sujiwo Tejo juga menyutradarai drama musikal yang berjudul 'Pangeran Katak dan Puteri Impian' yang digelar di Jakarta Convention Center tanggal 1 dan 2 Juli 2006.[7]

    Friday, 22 January 2010

    SIKSA KUBUR

    Siksakubur pertama kali di bentuk pada 6 Juli 1996. Dengan Line up antara lain Andyan Gorust (Drums) - Ade Godel (Gitar/ Voc) - Mbenk (Gitar) dan Burgenk (Bass).
    Nama Siksakubur ini diambil dari band yang menjadi tolak ukur mereka dalam bermusik yaitu SEPULTURA yang berarti kuburan band. Mereka memulai debut nya dari event-event UNDERGROUND dan mulai menarik perhatian para Pecinta musik DEATH METAL.
    Pada bulan juli hingga september tahun 1996 SIKSAKUBUR mulai masuk studio rekaman yang bernama K-studio yang mengemas 9 lagu yang dituangkan dalam sebuah album yang bernama "THE CARNAGE" yang dirilis dan didistribusikan oleh EXTREME SOUL PRODUCTION dalam sebuah kaset & CD. Album ini mendapat tanggapan yang positif dari kalangan UNDERGROUND khususnya album ini terjual 1000 keping CD & 500 copy kaset, walaupun kualitas dari album ini sangat kurang dikarenakan minimnya perlengkapan studio rekaman.
    Sukses dengan album pertamanya bulan November 2001 SIKSAKUBUR merekam 9 lagu dan disertakan sebuah (intro) yang dituangkan kedalam album kedua "BACK TO VENGEANCE" yang didistribusikan oleh ROTTREVORE records dalam sebuah format kaset, penjualan album ini termasuk fantastis dalam kurun waktu 1 bulan telah terjual 750 copy kaset walaupun hasil rekaman inipun masih kurang sempurna tapi lebih baik dari album pertama.
    SIKSAKUBUR mulai merambah event-event di Indonesia khususnya dipulau jawa hingga bali, Kalimantan, Sulawesi & Kota Lainnya.
    Formasi album THE CARNAGE and BACK TO VENGEANCE adalah Japra (vocal), Andyan gorust (Drum), Ade godel (gitar), Burgenk (Bass) tapi setelah album kedua dirilis ADE GODEL mengundurkan diri dari SIKSAKUBUR karena tidak bisa membagi waktunya dengan band, disusul dengan BURGENK yang mengundurkan diri dari band karena harus melanjutkan study keluar negeri.
    Posisi ini di gantikan oleh Andre yang juga gitaris REVITOL dan Yudhi bebek ex- AUTHORITY, dengan formasi ini SIKSAKUBUR mengeluarkan album ke tiga yang bertitel "EYE CRY" dan album ini dirilis dan didistribusikan oleh ROTTREVORE records dalam format CD dan KASET. Pada bulan juli tahun 2005 SIKSAKUBUR menjadi headline pada sebuah event metal di singapura.
    Album THE CARNAGE dan BACK TO VENGEANCE akhirnya dirilis oleh FROM BEYOND records (Belanda) ini adalah sub label dari DISPLASEDrec yang merupakan salah satu label METAL besar di amerika album ini dikemas kedalam bentuk CD yang didistribusikan Bukan hanya di ASIA tapi benua EROPA dan AMERIKA. Setelah lebih dari 10 thn berkiprah di Blantika musik metal Indonesia SIKSAKUBUR telah merilis 4 Album yaitu THE CARNAGE, BACK TO VENGEANCE, EYE CRY dan PODIUM yang juga merupakan album terakhir dari drummer sekaligus pendiri SIKSAKUBUR yaitu ANDYAN GORUST.
    Namun setelah mengalami masa2 sulit dan masa pencarian pemain drum, akhirnya SIKSAKUBUR mendapatkan drummer baru yaitu PRAMA [ex- ALEXANDER, LAST SUFFER] . Namun masalah belum selesai, YUDI BEBEK pun mengundurkan diri karena masalah pekerjaan, namun EWIN (Ex Bloody Gore/C.O.B/Extracensory) langsung menggantikannya dan SIKSAKUBUR pun siap untuk kembali dengan formasi baru ini.

    Taken From :



  • http://www.inilah.com/
  • Thursday, 14 January 2010

    WHITE SHOES & THE COUPLES COMPANY

    Pada bulan Agustus 2002, di sebuah kampus bernama IKJ, Cikini, Jakarta Pusat, dua kekasih dari fakultas seni, Rio dan Sari memutuskan untuk membentuk sebuah band bersama-sama dengan teman mereka di kampus yang bernama Saleh.
    Ini adalah formasi pertama White Shoes & The Couples Company, yang menampilkan Sari dalam vokal & violin, Rio pada gitar dan Saleh pada gitar melodi. Mereka bertiga melakukan debut pertama mereka dalam formasi ini di sebuah acara kampus.
    Namun, formasi trio menyimpang dari rencana awal dimana mereka benar-benar Sari dan Rio karena sepasang suami istri dari fakultas musik IKJ meminta untuk bergabung yang tak lain adalah pasangan adalah Ricky Surya Virgana & Mela Virgana.
    Namun waktu menjadi kendala untuk bertemu karena mereka terlalu sibuk kuliah dan berlatih untuk orkestra. Beberapa bulan kemudian, Ricky dan Mela bergabung dengan White Shoes & The Couples Company dan Ricky menempati posisi Bass dan cello sedangkan Mela pada biola, keyboard dan piano. Lagu pertama White Shoes & The Couples Company adalah "Runaway Song" yang ditulis oleh Sari & Rio. Yang berikutnya adalah "Windu & Defrina", diikuti "Sunday Memory Lane" dan "Nothing To Fear".
    Pada awalnya, White Shoes & The Couples Company tidak memiliki drummer. Dengan demikian, Ricky memulai mencari seorang teman di fakultas yaitu John Navid aka Lau Kun Sin untuk posisi drummer tambahan untuk bermain di salah satu acara di BB's Bar Menteng. karena sesuai dengan kebutuhan, John akhirnya menjadi drumer tetap pada tahun 2004. Dengan demikian, ini adalah formasi "White Shoes & The Couples Company" yang paling solid.
    White Shoes & The Couples Company merekam album debut mereka yang terdiri dari 11 lagu di bawah Aksara Records, indie label rekaman yang berbasis di Jakarta. Pada Agustus 2005, album ini dirilis oleh Aksara Records dan didistribusikan oleh Universal Music Indonesia di Indonesia. Album ini telah terjual lebih dari 15.000 kopi, dan hal itu merupakan langkah besar untuk sebuah band indie.
    Pada tahun yang sama, White Shoes & The Couples Company telah menyumbang satu lagu dalam pembuatan Soundtrack sebuah film layar lebar berjudul "Janji Joni" yang diproduksi oleh Kalyana Shira Films.

    Taken From :



  • http://www.inilah.com/
  • Tips Agar Foto Kamera Ponsel Berkualitas

    Kriteria foto yang bagus berbeda-beda. Namun ada 4 hal yang perlu diperhatikan untuk menghasilkan foto yang baik, pencahayaan, komposisi, sudut pandang dan momen.
    “Tidak pernah ada satu setting universal untuk setiap pengambilan gambar, karena setiap kali memotret ada pencermatan tertentu untuk menghasilkan gambar terbaik,” ujar Pakar Fotografi Kompas Arbain Rambey dalam diskusi The Art of Photografi yang diselenggarakan FKUI akhir pekan lalu.
    Pencahayaan memainkan peran penting dalam sebuah gambar. Arah datang dan jatuhnya cahaya terhadap benda akan menimbulkan bayangan yang sebagian besar akan merusak hasil foto. Hal itu boleh dilakukan jika fotografer ingin mendapatkan sebuah hasil foto yang di luar kebiasaan.
    Cahaya alam paling baik untuk pemotretan pada pukul 10.00 dan 16.00, karena arah datangnya sinar matahari langsung membentuk mahkota di kepala manusia yang menjadi obyek. Apalagi jika ingin memotret pemandangan maka akan sangat dibutuhkan sinar matahari.
    Sedangkan cahaya buatan dapat direkayasa oleh manusia dengan sifat ‘WYSWYG’ atau what you see is what you get. Cahaya buatan relatif mudah dikendalikan karena itu lebih banyak digunakan untuk mendapatkan hasil tertentu.
    Selain pencahayaan, ada komposisi, titik pandang dan momen. Ketiga hal berikut yang lebih banyak menuntut kreativitas ketika mengambil sebuah gambar. Karena cahaya pada dasarnya adalah sifatnya tetap.
    Untuk warna, putih adalah warna dasar yang paling baik untuk menyerap warna lainnya, sedangkan hitam sebaliknya, karena cahaya membangun karakter.
    Lalu bagaimana agar hasil pemotretan dengan kamera ponsel bisa mendapatkan hasil yang baik? Ketika kamera yang digunakan kapabilitasnya minim semacam ponsel, maka tetap bisa berkreasi di tiga unsur selain pencahayaan, komposisi, titik pandang dan momen, bisa diatur melalui pengaturan di ponsel mengenai ketajaman, cahaya dan zoom.
    “Kamera ponsel paling bagus adalah pada jenis ponsel Sony Ericsson dan Samsung,” ujar Pakar Fotografi UI Jusuf Kristianto.
    Bahkan rana atau kecepatan yang terbatas dapat disiasati dengan berbagai tips. Pengambilan bisa dilakukan dengan mendekat ke subyek. Memotret dalam jarak jauh menggunakan kamera ponsel sulit karena diafragmanya terbatas dan sudut pandangnya tidak bisa lebar, maka mencari celah terbaik lebih mendekat ke obyek foto.
    Mengawasi goyangan kamera juga penting. Seringkali tangan pengguna bergoyang ketika mengambil sebuah gambar, maka dari itu harus dibiasakan agar tangan tegap karena tidak ada tripod. Penggunaan dua tangan juga disarankan ketika mengambil sebuah gambar.
    Latar depan dan belakang foto juga perlu diperhatikan. Penempatan obyek foto sebaiknya memperhatikan latar depan dan belakang, warna apa dan siluetnya. Jika ingin fokus kepada obyek manusia atau wajah maka tekan setengah tombol capture, tarik kamera ke belakang sedikit lalu tekan sepenuhnya.
    Hindari memotret ke matahari. Matahari sebagai sumber cahaya tentu saja akan sangat sulit ketika pengguna akan mengambil gambar berlawanan dengan arah sinar matahari, usahakan mengikuti arah datangnya cahaya matahari. Gunakan autofokus dan night-mode jika ingin mengambil gambar di malam hari.
    Aturan sepertiga. Dalam sebuah foto sebenarnya ada bidang-bidang tertentu yang bisa memberikan warna dan komposisi lain hasil sebuah foto. Tidak harus selalu di tengah, melainkan ada bidang lain yang melintang atau titik tertentu bergantung obyek yang bisa memberikan seni dalam sebuah foto.

    Taken From :


  • http://www.inilah.com/


  • Sunday, 27 December 2009

    EFEK RUMAH KACA

    Efek Rumah Kaca adalah band indie yang berasal dari Jakarta. Terdiri dari Cholil Mahmud (vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (vokal latar, bass), Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar).
    Grup musik ini dibentuk pada tahun 2001. Setelah mengalami beberapa kali perubahan personil, akhirnya mereka memantapkan diri mereka dengan formasi band tiga orang. Sebelumnya, band ini bernama Hush. Nama ini kemudian diganti menjadi Superego, lalu berubah lagi pada tahun 2005 menjadi Efek Rumah Kaca (diambil dari salah satu judul lagu mereka).
    Banyak yang menyebutkan bahwa warna musik Efek Rumah Kaca tergolong dalam post-rock, bahkan adapula yang menyebutkan shoegaze sebagai warna musik mereka.
    Tetapi, Efek Rumah Kaca dengan mantap menyebutkan bahwa warna musik mereka adalah pop, karena mereka merasa tidak menggunakan banyak distorsi dalam lagu-lagu mereka seperti selayaknya musik rock. Mulai Januari 2009, mereka dipercaya untuk mengisi rubrik khusus seputar pemilu di surat kabar Kompas setiap hari Sabtu.
    Banyak ulasan yang mengatakan bahwa Efek Rumah Kaca sangat sensasional. Karya mereka dipercaya sangat laris manis dan jadwal pentas pun semakin padat.Ini karena Efek Rumah Kaca menawarkan sesuatu yang sangat berbeda.
    Lirik mereka mulai dari masalah gay, polusi, pemanasan global, perjuangan aktivis Munir hingga larisnya lagu pop melayu di Indonesia jadi perhatian mereka. Dengar saja lagu 'Cinta Melulu' yang dibalut nada ceria dengan tempo yang sangat pas.
    Lagu ini merajalela di banyak radio sejak beberapa bulan lalu. Lagu 'Jatuh Cinta itu Biasa Saja' sangat membuat penasaran. Syair yang sangat sastra dengan musik mellow terdengar cocok memanjakan telinga. Nuansa indie yang kental terdapat di semua lagu-lagu mereka.

    Taken From :



  • http://www.inilah.com/


  • SOULJAH

    Souljah adalah band beraliran reagge Jamaican yang terbentuk pada tahun 1998, ketika sebagian besar personilnya masih kuliah di Universitas Indonesia.
    Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2003 mereka dipercaya untuk ikut album kompilasi "Asian Ska Foundation" yang diproduksi oleh sebuah label Jepang bernama Authority Records.
    Album perdana Souljah yang berjudul Breaking the Roots rampung pada tahun 2005 lalu. Album tersebut berisikan 12 lagu yang unik yang dihidangkan ke telinga masyarakat dengan beragam jenis genre seperti Reggae, Chill out, Traditional ska, Dancehall, Hip Hop dan lainnya, sehingga dapat membuat orang tercengang mendengarnya.
    Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena penggabungan groovy beat Dimas, suara lembut dan powerful dari Danar, Jamaican rap yang melodius dari Said, suara trumpet sexy David, nada lembut dan hangat persembahan Renhat, dan tentunya permainan gitar upstroke dari Bayu, gitaris Souljah yang kini telah hengkang dan digantikan posisinya oleh Gema Maulana.
    Empat dari 12 lagu tersebut merupakan karya kolaborasi Souljah dengan artis-artis-artis seperti Soul ID yang muncul dalam "All I Know," Bad Mono dalam "The Day The World Turns Into Grey," Sundari Soekotjo dalam "Lelaki itu" dan Happy Salma dalam "Magenta".
    Dengan album BREAKING THE ROOTS, SOULJAH berhasil mendapatkan penghargaan sebagai "Breakthrough artist" oleh Radio Prambors Jakarta.
    Album ke 2 Souljah dengan judul "BERSAMAMU" dirilis pada tahun 2007 yang di ikuti oleh dirilisnya sebuah novel dengan judul yang sama oleh "Gagas Media". Album ini telah laku ribuan keping yang membuat SOULJAH semakin menapakkan kaki di blantika musik nasional.
    Sebagai persembahan single dari album ke 3 Souljah yang diberi judul "MESTAKUNG", maka Souljah mengedepankan single "Hanya Ingin Pulang". Sebuah lagu yang diciptakan khusus sebagai theme song perjalanan mudik. Album MESTAKUNG ini juga akan dirilis pada bulan November 2008.

    Taken From :


  • http://www.inilah.com/


  • Sunday, 13 December 2009

    PURGATORY

    Purgatory adalah sebuah band death metal asal Jakarta, grup musik ini dibentuk pada tahun 1994 oleh Lutfi sang gitaris bersama dengan adik kandungnya yaitu Al yang memainkan drum.

    Lirik yang dibawakan oleh Purgatory adalah berkisar tentang ajaran agama Islam, perang Uhud, siksa kubur, kematian, keputusasaan, kritik sosial yang bernuansa gelap, politik dan lain-lain.

    Awal terbentuknya mereka sering membawakan lagu Obituary dan Sepultura. Baru sekitar tahun 2004 mereka memutuskan untuk menggunakan topeng dan penambahan personil seorang DJ, seperti halnya band asal Iowa Amerika yaitu Slipknot.

    Pada awal terbentuknya band ini ditahun 1991 mereka hanya sekedar iseng, dengan beranggotakan 4 orang yaitu Al (bass), Lutfi (gitar), Millano (vokal), dan Fadli (drum) dgn warna musik crossover kemudian hanya bertahan selama 8 tahun.

    Sekitar 4-5 bulan Fadli sang drummer keluar dari band, kemudian drummer pun dicomot oleh posisi baru Al mantan pemain bass, yang juga masih adik kandung Lutfi.

    Nama Purgatory diambil dari salah satu film horor yang berjudul A Nightmare on Elm Street 2 dengan tokoh utamanya yaitu Freddy Krueger, dalam salah satu adegan ada panah yg bertuliskan "PURGATORY", kemudian mereka mencari tahu artinya didalam sebuah kamus yang ternyata berarti "Proses penyucian roh" dan nama itu benar-benar menyatu dengan tiap personil.

    Band ini sempat tersandung dengan masalah nama band yang sama dari negara lain, dari band yang belum memiliki album sampai dengan yang terkenal di daerahnya masing-masing. Ada seorang pengacara asing di YouTube (video clip "Pathetic") berkomentar minta band ini untuk mengganti namanya, dikatakan bahwa mereka sudah menggunakan nama ini lebih dulu pada tahun 1999. Dimana pada saat itu, YouTube belum ada.

    Pada tahun 1992 perombakan besar-besaran terjadi baik dari segi nama dan warna musik menjadi Death Metal dgn membawakan lagu-lagu Obituary dan Sepultura, band ini sempat vakum 2 tahun tapi personil lain purgatory tetap aktif dalam session diband lain.

    Pada september tahun 2002 band ini sudah mulai aktif lagi membuat lagu dan pada saat itu baru ada 3 lagu. Purgatory sempat juga membuat video klip dengan dana kolektif. Dengan formasi baru Al, Lutfi, Amor, Die, Nti, Buday.

    Band ini pun sempat bikin single dari 3 lagu itu dan single itu dikasihkan ke Rony dan ternyata lagu tersebut banyak sekali kekurangan, yang hasilnya kurang bagus dan harus take ulang lagi, sembari membuat materi lagu baru. Kesemua aktivitas itu dilakukan di Home Studio Ronny.

    Ditahun 2003 kemudian aliran musik yang dibawakan adalah metal tapi metal yang dalam arti pendewasaan seperti yang orang dengar di album terbaru Purgatory, 7:172, berbeda dengan yang sebelumnya, jelas Lutfi. Album Purgatory sekarang dibawah label ZR Production dan titip edar di Sony Music Indonesia.

    Band ini, telah mengganti logo lamanya menjadi logo ambigram, yaitu suatu seni kaligrafi teks/huruf dimana gambar yang dihasilkan bukan hanya bisa dibaca dari satu arah, tetapi dari arah sebalikanya. Ambigram Purgatory ini dibuat oleh Thovfa Cb dari studio EndOneStuff.

    Taken From :


  • http://www.inilah.com/


  • Wednesday, 9 December 2009

    MARJINAL

    Marjinal dibentuk 12 tahun yang silam pada 22 Desember 1996, bertepatan dengan Hari Ibu di kalender nasional. Dua belas tahun yang lalu (1996), para personel Marjinal bertemu di sebuah kampus grafika di Jakarta Selatan.

    Awalnya, mereka ingin kuliah, tapi semakin lama mereka tidak tertarik. Apa yang dipelajari di kampus telah mereka kuasai, mereka telah ahli dalam menggambar, desain dan lain-lain.
    Para personel Marjinal bertemu dan membicarakan situasi di luar kampus, yang atmospherenya bersifat represif, nggak bebas mengeluarkan pendapat atau berekspresi.
    Lalu mereka membangun sebuah jaringan namanya Anti Facist Racist Action (AFRA), yang didalamnya berisi kawan-kawan yang mempunyai kesadaran melawan sistem yang fasis.
    Mereka menggunakan media visual, lewat poster dari cukil kayu, baliho dan lukisan yang menggugah kesadaran generasi muda, untuk melawan sistem fasis yang diusung Orde Baru. Selain melakukan diskusi, penerbitan newsletter, dan aksi turun ke jalan, mereka secara kebetulan juga bermain musik. Dengan modal gitar dan jurus tiga kunci, mereka membuat lagu sendiri yang berangkat dari kenyataan hidup sehari-hari. Kemudian mereka menamakan kelompok itu awalnya Anti Military.
    Dalam perkembangannya, Anti Military dipahami orang-orang sebagai sebuah band, Padahal mereka bukan musisi dalam arti sesungguhnya! Musik menurut mereka hanya sebagai alat komunikasi kepada khalayak yang lebih luas, lebih asyik, medium menyampaikan pesan dan jadi inspirasi untuk anak-anak di pergerakan ke depan ketika melihat kenyataan kehidupan sosial-politik dikangkangi rejim yang fasis militeristik.
    Persoalannya bukan lagi rejim yang fasis dan rasis saja. Tapi lebih luas lagi, negeri ini jadi negeri yang mengerikan, banyak tragedi, perang saudara, buruh-buruh diperas, dieksploitasi, rumah sakit dan pendidikan begitu komersial, kereta-api sebagai sarana angkutan melayani orang seperti mengangkut binatang. Jadi, dari sistem yang fasis, anti demokrasi, terpusat dan korup kini menyebar ke sendi-sendi kehidupan bangsa.
    Menurut mereka, bangsa ini sudah lupa bagaimana para pejuang dulu mendirikan Indonesia sebagai sebuah nation. Indonesia didirikan sebagai kesatuan dari tekad para pemuda yang beragam suku, agama, latar belakang sosialnya itu bersatu membangun sebuah nation! Lalu mereka mengganti nama dari Anti Military menjadi Marjinal.
    Berawal ketika Mike, sang vokalis menemukan kata Marjinal karena terinspirasi oleh nama pejuang buruh perempuan yang mati disiksa militer. "Marsinah..Marsinah...MARJINAL" Kata Marjinal sendiri waktu itu belum banyak dipakai untuk menjelaskan posisi orang-orang pinggiran.

    Taken From :


  • http://www.inilah.com/


  • ENDAH 'n RHESA

    Endah N Rhesa adalah duo dari Endah Widiastuti (gitar-vokal) dan Rhesa Aditya (Bass) yang terbentuk sejak tahun 2004 dalam format akustik ballads.

    Mereka menganggap bahwa musik akustik memiliki karakter yang natural, jujur dan tidak pernah habis termakan waktu maupun tren yang berlaku. Konsep minimalis membuat mereka merasa lebih bebas bereksplorasi untuk mengekspresikan idealisme.
    Setelah melalui proses yang panjang dalam bermusik, seperti bermain secara reguler di kafe, ajang festival akbar seperti Java Jazz Festival dan Indonesian Earth Festival, Endah N Resha juga tampil dalam acara TV inspiratif seperti Kick Andy.
    Mereka akhirnya menjadi produser Album Musikalisasi Puisi "Angin Pun Berbisik" yang ditujukan sebagai album amal untuk tuna netra yang melibatkan beberapa seniman Indonesia dan Yayasan Mitra Netra.
    Nowhere To Go adalah album perdana mereka yang beredar di pasaran. Konsep album ini menceritakan tentang sebuah khayalan Endah N Rhesa tentang suatu pulau yang semu.
    Masing-masing lagu dari album "Nowhere To Go" bercerita tentang kejadian-kejadian di pulau tersebut. Mulai dari percintaan, persahabatan, keajaiban, sampai kisah heroik.
    Imajinasi, kreatifitas dan kejujuran merupakan pondasi utama Endah N Rhesa dalam bermusik. Di bawah label Reiproject dan Record Label demajors, Endah N Rhesa berharap untuk memberikan hasil yang terbaik bagi dunia musik dalam lingkup nasional maupun Internasional.

    Taken From :


  • http://www.inilah.com/



  • BURGERKILL

    Burgerkill adalah sebuah band Metal Hardcore yang berasal dari kota Bandung. Nama band ini diambil dari sebuah nama restaurant makanan siap saji asal Amerika, yaitu Burger King, yang kemudian oleh mereka diparodikan menjadi "Burgerkill".

    Burgerkill berdiri pada bulan Mei 1995 berawal dari Eben, seorang gitaris Jakarta yang pindah ke Bandung untuk melanjutkan sekolahnya. Dari sekolah itulah Eben bertemu dengan Ivan, Kimung, dan Dadan sebagai line-up pertamanya. Band ini memulai karirnya sebagai sebuah side project, just a bunch of metal kids jamming their axe-hard sambil menunggu band orisinilnya dapat panggilan manggung. Tapi tidak buat Eben, dia merasa bahwa band ini adalah hidupnya dan berusaha berfikir keras agar Burgerkill dapat diakui di komunitasnya.
    Ketika itu mereka lebih banyak mendapat job manggung di Jakarta melalui koneksi teman-teman Hardcore Eben, dari situlah antusiasme masyarakat underground terhadap Burgerkill dimulai dan fenomena musik keras tanpa sadar telah lahir di Indonesia. Walhasil line-up awal band ini pun tidak berjalan mulus, sederet nama musisi underground pernah masuk jajaran member Burgerkill sampai akhirnya tiba di line-up solid saat ini.
    Ketika mereka berhasil merilis single pertamanya lewat underground fenomenal Richard Mutter yang merilis kompilasi cd band-band underground Bandung pada awal 1997. Nama lain seperti Full Of Hate, Puppen, dan Cherry Bombshell juga bercokol di kompilasi yang berjudul "Masaindahbangetsekalipisan" tersebut. Memang masa itu masa indah musik underground. Everything is new and new things stoked people! lagu Revolt! dari Burgerkill menjadi nomor pembuka di album yang terjual 1000 keping dalam waktu singkat ini. Pada akhir tahun 1997 mereka kembali ikut serta dalam kompilasi "Breathless" dengan menyertakan lagu "Offered Sucks" didalamnya.
    Awal tahun 1998 perjalanan mereka berlanjut dengan rilisan single Blank Proudness, pada kompilasi band-band Grindcore Ujungberung berjudul "Independent Rebel". Yang ketika itu dirilis oleh semua major label dengan distribusi luas di Indonesia dan juga di Malaysia. Setelah itu nama Burgerkill semakin banyak menghias concert flyers di seputar komunitas musik underground. Semakin banyak fans yang menunggu kehadiran mereka diatas panggung. Burgerkill sang Hardcore Begundal!
    Pada awal tahun 1999, mereka mendapat tawaran dari perusahaan rekaman independent Malaysia, Anak Liar Records yang berakhir dengan deal merilis album Three Ways Split bersama dengan band Infireal (Malaysia) dan Watch It Fall (Perancis). Hubungan dengan network underground di Malaysia dan Singapura berlanjut terus hingga sekarang. Burgerkill menjadi langganan cover zine independent di negara-negara tersebut dan berimbas dengan terus bertambahnya fans mereka dari negeri Jiran.
    Di tahun 2000, akhirnya Burgerkill berhasil merilis album perdana mereka dengan title "Dua Sisi" dan 5000 kaset yang di cetak oleh label indie asal Bandung, Riotic Records ludes habis dilahap penggemar fanatik yang sudah tidak sabar menunggu sejak lama. Di tahun yang sama, band ini juga merilis single "Everlasting Hope Never Ending Pain" lewat kompilasi "Ticket To Ride", sebuah album yang benefitnya disumbangkan untuk pembangunan sebuah skatepark di kota Bandung.
    Beberapa Mainstream Achievement pun sempat mereka rasakan, salah satunya menjadi nominator Band Independent Terbaik ala majalah NewsMusik di tahun 2000. Awal tahun 2001 pun mereka berhasil melakukan kerjasama dengan sebuah perusahaan produk sport apparel asal Amerika: Puma yang selama 1 tahun mensupport setiap kali Burgerkill melakukan pementasan. Dan sejak Oktober 2002 sebuah produk clothing asal Australia yang bernamaINSIGHT juga mensupport dalam setiap penampilan mereka.
    Sebuah kejutan hadir pada pertengahan tahun 2004, lewat album "Berkarat" Burgerkill masuk kedalam salah satu nominasi dalam salah satu event Achievement musik terbesar di Indonesia "Ami Awards". Dan secara mengejutkan mereka berhasil menyabet award tahunan tersebut untuk kategori "Best Metal Production". Sebuah prestasi yang mungkin tidak pernah terlintas di benak mereka, dan bagi mereka hal tersebut merupakan sebuah tanggung jawab besar yang harus mereka buktikan melalui karya-karya mereka selanjutnya.
    Akhirnya mereka sepakat untuk merilis album ke-3 "Beyond Coma And Despair" di bawah label mereka sendiri Revolt! Records di pertengahan Agustus 2006. Album ketiga yang memiliki arti sangat dalam bagi semua personil Burgerkill baik secara sound, struktur, dan format musik yang mereka suguhkan sangat berbeda dengan dua album sebelumnya. Materi yang lebih berat, tegas, teknikal, dan berani mereka suguhkan dengan maksimal disetiap track-nya.
    Namun tak ada gading yang tak patah, sebuah musibah terbesar dalam perjalanan karir mereka pun tak terelakan, Ivan sang vokalis akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya ditengah-tengah proses peluncuran album baru mereka di akhir Juli 2006. Peradangan pada otaknya telah merenggut nyawa seorang ikon komunitas musik keras di Indonesia. Tanpa disadari semua penulisan lirik Ivan pada album ini seolah-olah mengindikasikan kondisi Ivan saat itu, dilengkapi alur cerita personal dan depresif yang terselubung sebagai tanda perjalanan akhir dari kehidupannya.
    Akhirnya setelah melewati proses Audisi Vokal, mereka menemukan Vicki sebagai Frontman baru untuk tahap berikutnya dalam perjalanan karir mereka. Dan pada awal Januari 2007 mereka telah sukses menggelar serangkaian tour di kota-kota besar di Pulau Jawa dan Bali dalam rangka mempromosikan album baru mereka.
    Target penjualan tiket di setiap kota yang didatangi selalu mampu mereka tembus, dan juga ludesnya penjualan tiket di beberapa kota menandakan besarnya antusiasme masyarakat musik cadas di Indonesia terhadap penampilan Burgerkill.

    Taken From :


  • http://www.inilah.com/


  • Sunday, 15 November 2009

    STRAIGHTOUT




    Dari sela-sela kerusuhan nasional pada Mei 1998 silam, terbentuklah Straightout yang diprakarsai oleh Mui (vocals) dan Pipinx (guitars).
    Pada awal musikalitasnya, Straightout di pengaruhi oleh band-band Hardcore seperti Earth Crisis dan Strife. Namun seiring dengan berjalannya waktu, perjalanan panggung dan pergantian line-up yang tidak sedikit, mereka tidak lagi memainkan Hardcore.
    Pengaruh musikal mereka bergeser ke arah Band Metal seperti Hamartia, Dead Blue Sky, Arch Enemy, The Black Dahlia Murder, Iron Maiden, hingga Cradle of Filth.
    Straightout memiliki suatu ciri sendiri dalam bermusik, bernuansa kelam, sorrow, dan juga megah. Dipadati dengan tempo yang cepat, fill-in dan melodi-melodi yang kritis. Dari dentingan piano dan alunan gundah suara wanita.
    Hingga sayatan-sayatan gitar yang tebal mendalam. Diiringi oleh derasnya hentakan drum dan disuarai oleh teriakan pilu yang menggeram.
    Ketika tampil, Straightout pun memiliki aksi panggung yang cukup sulit untuk dideskripsikan melalui tulisan semata. Mereka sangguh enerjik dan atraktif. Dari mengayun, memutar, ber-crowd surfing dengan gitar atau pun bass mereka, hingga melemparkannya instrument mereka ke kelantai.
    Mengenai sejarah personil, Straightout juga memiliki latar belakang yang cukup unik. Di drumi oleh Beni, yang merupakan seorang penabuh drum dari The Upstairs, yang merupakan band pionir Nu Wave asal Jakarta. Serta Rebecca pada female voice, adalah seorang wanita berparas cantik dengan suara khas dan indah, yang sebelumnya juga sempat menjadi personil dari The Upstairs, dan juga grup dansa elektronik, Goodnight Electric.
    1

    Pada 25 April 2004, Straightout merilis debut full album bertitel "Undying Beauty and the Symphony of Sadness," dalam bentuk CD dan Kaset di bawah naungan record indie label yaitu "Bluesky Records" dan bekerja sama dengan "Diselexia Records" (Malaysia) serta distribusikan secara online melalui www.interpunk.com.
    Album ini menuai respon positif dari fans dan pujian dari media underground lokal. Dan Terjual Sekitar 2000 copy, sehingga mengantarkan Straightout ke berbagai pentas indie hingga ajang pensi SMA bergengsi di Jakarta.
    Bahkan merambah ke luar kota seperti Bandung, Purwokerto, Semarang dan Surabaya. Dilanjutkan pada Februari 2005, mereka merilis split album dengan titel "Endzweck Straightout".
    Split album ini dilakukan bersama Endzweck yang merupakan salah satu dari japanese hardcore heroes. Dimana saat ini band tersebut telah bergabung dengan salah satu label trendsetter metal hardcore dunia "Goodlife Records", yang juga sempat menangani Avenged Sevenfold dan Poison The Well.
    Disusul dengan rangkaian Keep Music Evil Tour 2005 pada 12-15 februari 2005 dimana Straightout bersama dengan Cassandra (Malaysian Metal Core) menjadi Headliner dalam tour di tiga kota yaitu Jakarta, Bandung, Semarang dan selalu sukses memerahkan suasana dan memompa adrenalin massa di setiap kota-kota yang mereka datangi.
    Pertengahan 2005, pergantian line up kembali terjadi. Kali ini tidak tanggung-tanggung, Rendy (gitar), Dony (keyboard) dan Bayu (vokal) keluar dari straightout.
    Namun kekosongan ini tidak membuat Straightout kehilangan semangat mereka, hingga Pada pertengahan 2006 terbentuklah line-up tersolid Straightout yaitu Demise (eks-Sadistis) - vokal, Pipinx - guitars, Danny (eks-Perfect Minor) - guitars, Sonny - bass, Beni (drummer The Upstairs) - drums, Mela (additional player The Sastro) - keyboards dan Rebecca (eks-Goodnight Electric) - female voice.
    Straightout kembali memasuki studio rekaman pada Desember 2006, Proses rekaman itu sendiri sebenarnya hanya memakan waktu satu bulan, namun sayangnya dalam penyelesaian tahap akhir, album ini sempat tertunda.
    Salah satunya karena banjir bandang yang menimpa ibukota. Setelah melewati berbagai macam proses dan kendala, akhirnya album kedua Straightout yang berjudul "Forsaken Upon Nemesis" pun dapat di rilis pada awal september 2007 ini. Berisikan dua belas lagu terbaru dengan komposisi musik yang lebih liar dari yang sebelumnya.

    Taken From :


  • http://www.inilah.com/